Bertaruh Nyawa Demi Memungut Sampah Oleh Penyelam Wanita

Bertaruh nyawa demi memungut sampah telah berulang kali dilakukan oleh seorang wanita yang berprofesi sebagai penyelam. Swietenia Puspa Lestari masuk dalam daftar 100 perempuan berpengaruh dan menginspirasi oleh BBC periode 2019 silam dan sempat mewawancarainya.

Gadis ini biasa dipanggil dengan sebutan Tenia, ia adalah pendiri dari Divers Clean Action yaitu komunitas para penyelam yang peduli lingkungan kelautan Indonesia. Memiliki kegemaran menyelam telah membawa dirinya pada sebuah jalan hidup tidak terduga yaitu menjadi seorang pemerhati sekaligus pegiat kebersihan lingkungan, khususnya pada ekosistem laut di Pulau Seribu.

Bertaruh Nyawa Demi Memungut Sampah Oleh Penyelam Wanita

Tenia mengaku sering kali berjumpa dengan sampah dalam jumlah masif di sekitar pantai maupun permukaan laut tempatnya menyelam. Semuanya berawal dari pengalaman Tenia saat mencoba perairan Berau, Kalimantan Timur pada tahun 2016 yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya.

Tenia yang baru saja merayakan ulang tahun ke 25 ini berusaha mengulang kembali memori pahit saat ia sedang menyelam pada kedalaman 15 menuju 30 meter pada lokasi tersebut. Ia terkejut bukan kepalang karena mendapati berbagai macam sampah mulai dari kaleng, plastik kresek, botol air mineral, hingga ban bekas sepeda berhamburan di dasar pantai.

Bertaruh Nyawa Demi Memungut Sampah Oleh Divers Clean Action

Perempuan hebat ini telah bertaruh nyawa demi memungut sampah meskipun ia tahu bahwa apa yang sedang dilakukan dapat membawanya ke alam kematian. Seharusnya, minimal haruslah seorang penyelam bersertifikat advanced yang boleh menyelami titik tersebut karena arus dasarnya terlalu kencang untuk ukuran seorang amatir.

Tenia mendadak menjadi sangat kesal karena ia mengira bahwa lokasi arus yang kencang akan membuat sampah terdorong dari sana. Bahkan pada posisi seperti itu, para penyelam pun harus senantiasa saling berpegangan tangan supaya tidak tersedot oleh derasnya tekanan gelombang arus.

Bertaruh Nyawa Demi Memungut Sampah Oleh Divers Clean Action

Kenyataannya, toh sampah itu tetap memenuhi dasar lautan juga tidak peduli bagaimanapun hebatnya pergerakan air di sekitarnya. Saat itulah, Tenia segera mengambil keputusan untuk inisiatif penuh memunguti tumpukan sampah tersebut meski taruhannya adalah hidup atau mati selama-lamanya meninggalkan dunia fana.

Inisiasi yang dilakukan oleh Tenia sangatlah mulia karena tidak berniat mencari atensi dari masyarakat, bahkan kegiatannya tidak semeriah acara perayaan komunitas srikandi BUMN Indonesia dalam rangka memperingati perayaan hari ibu. Alhasil, Tenia pasrah saja menerima makian serta diomeli habis – habisan oleh sang instruktur karena telah gegabah dan membahayakan diri sendiri.

Plastik Kresek Yang Menjelma Menjadi Ubur-ubur

Usaha Tenia bertaruh nyawa demi memungut sampah bukanlah aksi mencari perhatian dan ingin dianggap heroik, karena hati kecilnya seakan berbicara pada dirinya sendiri. Ia khawatir bahwa sampah tersebut akan melukai segala macam hewan laut yang hidup dalam ekosistem tersebut akibat dari sikap sembarangan manusia.

Pasalnya, ia sendiri sering salah mengira saat menemukan semacam ubur-ubur yang mengambang berwarna agak transparan, ternyata adalah kantong kresek plastik. Apabila manusia saja bisa terkecoh, bagaimana dengan penyu yang notabenenya adalah pemakan asli ubur-ubur? Berapa banyak penyu yang menderita karena telah salah mengidentifikasi sampah plastik sebagai ubur-ubur selama ini?

Bertaruh Nyawa Demi Memungut Sampah Plastik Kresek Yang Menjelma Menjadi Ubur-ubur

Indonesia saat ini adalah penyumbang limbah sampah laut terbesar kedua di dunia setelah negara China, dengan volume mencapai 1,3 juta ton setiap tahun. Itulah sebabnya mengapa Tenia tidak bisa tinggal diam lagi dan mulai bergerak salah satunya dengan mendirikan Divers Clean Action semasa dirinya masih mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung beberapa tahun silam.

Salah satu wilayah operasinya adalah Kepulauan Seribu, karena dulu pernah bertempat tinggal di Pulau Pramuka sekitaran periode 2003 menuju 2007, dan mengamati bahwa kondisinya semakin memprihatinkan karena menjadi objek wisata. Pada saat itu, Tenia masih bisa menyaksikan pemandangan berupa kumpulan ikan badut mengitari cantiknya terumbu karang, namun kini telah tertutupi oleh sampah yang sulit untuk melewati proses daur ulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *